Rabu, 04 April 2012

Gunung Gede Penuh Sampah, Jakarta Terancam



Bersenjatakan karung dan tongkat, para relawan menyusuri Gunung Gede Pangrango. Memunguti sampah yang ditinggalkan para wisatawan juga pendaki. Ada kemasan plastik mie instan, kaleng, botol minuman, bahkan pakaian. Pada Kamis 22 Maret 2012, sampah yang dikumpulkan total sekitar tiga ton. Hanya dalam dua hari.

"Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena berdampak langsung pada penurunan kualitas dan kuantitas air di kawasan ini," kata Kordinator Wilayah Walhi, Kabupaten Ciajur, Jawa Barat, Eko Wiwid, Kamis 22 Maret 2012.

Apalagi, semua jenis sampah tak bakal terurai oleh tanah, meski makan waktu ribuan tahun. Keberadaan sampah akan menghambat pertumbuhan pohon, penyerap air. "Setiap pohon yang tumbuh dalam ekosistem hutan tropis pegunungan, selama daur hidupnya akan menghasilkan air 250 galon air. Saat ini, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang luasnya 22.851 hektar, menghasilkan 231 miliar liter air per tahun," kata dia. Berkurangnya pohon, makin minim air.

Eko menjelaskan, dampak kerusakan ekologi yang paling nyata adalah makin turunnya debit air dari Gunung Gede setiap tahunnya. Juga menimbulkan bencana. "Hasilnya, kawasan ini selalu dijadikan kambing hitam sebagai sumber bencana alam, teruama banjir Jakarta," keluhnya.

Kawasan Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu sumber air terbesar di Jawa Barat. Kawasan ini terletak di tiga kawasan dari Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi hingga Kabupaten Bogor dan merupakan sumber air baku untuk berbagi keperluan masyarakat tiga wilayah tersebut. Bahkan untuk air mineral kemasan yang beredar di Jabotabek 70% berasal dari kawasan ini.

Eko mengatakan, saat ini ada 20 perusahaan air dalam kemasan yang berada di hilir Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Keberadaan perusahaan air privat berdampak pada makin sempitnya akses masyarakat untuk mendapatkan air yang berkualitas.

Ke depan, konflik air bakal makin meruncing, terutama di musim kemarau. Seringkali terjadi percekcokan hingga pertikaian yang memakan korban jiwa.

Dampak sampai Jakarta

Soal sampah di Gunung Gede, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Agus Wahyudi akan menggandeng sejumlah pihak untuk bersih-bersih.

Juga mengingatkan dan menjadwal para pendaki. “Saya harap upaya ini akan mampu memperbaiki ekologi dan ekosistem yang ada saat ini. Dan kesadaran pendaki yang mengatasnamakan pencinta alam bisa benar benar mencintai alam dengan tidak merusak ekosistem yang ada, terutaa membawa kembali sampah yang mereka bawa saat naik ke puncak gunung,” paparnya.

Soal pengaruhnya ke air, Agus mengakui dampak penumpukan sampah ke kualitas air. Sampai saat ini, kuantitas air yang diserap dan disalurkan Gunung Gede memang masih dalam taraf stabil. Dari data TNGGP kawasan gunung Gede Pangrango menghasilkan 230.000 meter kubik air pertahun.

“Dengan jumlah ini kawasan Gunung Gede Pangrango merupakan sumber air terbesar di kawasan Jawa Barat. Jika ekosistmnya terganggu tentu saja berpengaruh banyak terutama pada sungai sungai besar yang mengalir di Jawa Barat hingga Jakarta,”ungkapnya.

Saat ini TNGGP sedang fokus untuk membenahi ekosistem hutan dengan memperbaiki lahan terbuka. Areal terbuka terus berkurang sejak tahun 1999. Dengan semakin mengecilnya luasan kawasan terbuka di wilayah gunung

Gede Pangrango diharapkan daya tangkapan air kawasan ini terhadap air hujan akan semakin besar. Selain itu, jumlah air yang tertahan bisa lebih besar sehingga saat musim hujan tidak langsung mengalir ke sungai sungai terutama di kawasan Bogor. Dimana debit air yang besar tidak dapat ditahan oleh bendungan bendungan yang ada dan bermuara pada banjir Jakarta.

Diambang "perang air"?

Kondisi Gunung Gede relevan dengan peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh tiap tanggal 22 Maret. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengingatkan tantangan ke depan yang makin besar: bagaimana memberi makan 9 miliar orang pada tahun 2050 sembari memenuhi kebutuhan air penduduk Bumi.

Saat ini saja, air dalam jumlah banyak dipergunakan untuk mengairi pertanian, baik untuk kepentingan pangan maupun energi alternatif. Sebagai contoh, perlu 1.500 liter air untuk memproduksi 1 kg gandum. Sekilo daging sapi diperlukan 15.000 liter air. Situasi diperburuk dengan perubahan iklim.

Laporan PBB menyebut, dua miliar orang memperoleh akses untuk perbaikan sumber air minum antara 1990 sampai 2010, sebaliknya masih ada 11 persen penduduk dunia atau 783 jiwa yang belum mendapatkan akses ke air minum yang aman. Dalam jumlah lebih besar, 2,5 miliar penduduk bumi, tidak memiliki fasilitas sanitasi yang baik.

Sementara, laporan intelijen Amerika Serikat menyebut, persaingan mendapatkan air dekade mendatang akan menimbulkan instabilitas di sejumlah wilayah, seperti Asia Selatan dan Timur Tengah.

"Perang" untuk mendapatkan sumber daya air diperkirakan akan mengemuka 10 tahun mendatang. Di mana negara akan menggunakan air sebagai posisi tawar. "Sumber air yang diklaim sejumlah negara agan akan digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pengaruh, demikian juga dengan dugaan air sebagai sasaran terorisme bukan tak mungkin terjadi 10 tahun lagi.

Juga disebut, masalah air -- kekurangan, kualitas yang buruk, dan banjir memang tak bakal membuat sebuah negara runtuh. "Namun, permasalahan air, ketika dikombinasikan dengan kemiskinan, tekanan dalam masyarakat, degradasi lingkungan, kepemimpinan yang tak efektif, dan institusi politik yang tak baik, bisa berujung pada sebuah negara gagal," demikian isi laporan intelijen AS seperti dimuat situs South Asian News Agency (SANA).





sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar